Fundamental Error PT. KA sudah bertahun-tahun
PT Kereta Api (KA) mengakui, kesalahan mendasar (Fundamental Error) telah terjadi bertahun-tahun di tubuh BUMN Perkeretaapian ini sehingga diperlukan perubahan mendasar yang menyeluruh."Kesalahan mendasar itu khususnya pada tataran operasi sehingga wajar jika berbagai kecelakaan terus dan akan terus terjadi," kata Direktur Keuangan PT.KA. Kuntjoro H. menjawab pers di Jakarta, Jumat.
Dikatakannya, pada tataran operasional seharusnya prasarana dan sarana KA sudah harus diganti, tetapi karena minimnya anggaran, hal itu tidak dilakukan sehingga potensi untuk itu (back log) mencapai Rp11 triliun.
Dicontohkannya, dalam hal ketentuan yang melarang KA tidak berangkat (no go item), saat ini PT. KA memberi toleransi 1 dan 4. Artinya, tiap empat kereta hanya satu yang ada remnya.
"Padahal, reglemen operasional untuk keselamatan, mestinya empat kereta harus ada remnya. Ini yang terjadi di lapangan," katanya.
Senada dengan Kuntjoro, mantan Direktur Operasi Teknik PT.KA, S. Siregar menegaskan, tren kecelakaan di PT.KA selama ini disebabkan oleh kombinasi minimnya kondisi sarana dan prasarana seperti roda aus, rel rusak, bantalan rel keropos dan lainnya.
Oleh karena itu, Kuntjoro mendorong pihak terkait untuk mencarikan jalan keluar terhadap persoalan back log perkeretaapian nasional ini.
Dia memperkirakan, perlu "revolusi" atau perubahan menyeluruh yang dimulai dengan terpenuhinya dana untuk pemeliharaan dan penggantian sarana dan prasarana yang seharusnya.
"Kongkretnya kami ingin 40-60 persen dari kebutuhan back log itu dipenuhi dalam waktu tiga tahun ke depan," katanya.
Jika itu dipenuhi, kata Kuntjoro, baru komitmen hukuman dan hadiah kepada manajemen PT.KA layak diberikan jika masih terjadi beragam kecelakaan.
Terkait dengan pemberian subsidi untuk penumpang kelas ekonomi dalam bentuk Public Service Obligation (PSO), Kuntjoro berharap, mekanisme pemberiannya hendaknya tepat waktu dan tidak diperhitungkan dalam bentuk piutang.
"Akumulatif tagihan PSO untuk PTB KA dari pemerintah hingga 2005 yang belum cair tercatat sebesar Rp1,62 triliun," katanya.
Sementara untuk PSO 2005, sudah cair Rp350 miliar dari Rp450 miliar yang diminta PT KA. Sedangkan untuk 2007 ini, PT.KA mengajukan Rp375 miliar.
Nilai PSO untuk penumpang ekonomi PT.KA, tambah Kuntjoro, jika dibanding dengan moda lain sangat kecil yakni hanya Rp2.600 per orang, sedangkan penumpang PT Merpati Nusantara Airlines untuk rute perintis Rp250 ribu per penumpang.
"Yang paling besar penumpang ekonomi PT.Pelni sebesar Rp400 ribu per penumpang," demikian menutup wawancara dengan kapanlagi.com.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home